Perang Uhud

Perang uhud merupakan perang yang sangat bersejarah dalam Islam dan kenabian, dengan segala musibah dan hikmah yang sangat banyak sekali.

Perang Uhud
Perang Uhud (islamiclifebd.com)

Latar Belakang Perang Uhud

Sebelum terjadi perang Uhud, pada tahun 2 Hijriyah, bangsa Arab dikejutkan dengan perang besar antara tentara Quraish dengan tentara kota Madinah di bawah pimpinan Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kaum Quraish mengirim sekitar seribu tentara yang siap tempur dengan persenjataan lengkap dan persiapan matang. Sedangkan dari pihak muslimin Madinah, hanya terdiri dari tiga ratus orang yang tidak membawa senjata lengkap.

Mereka belum bersiap-siap untuk perang, karena memang mereka merasa ketika keluar tidak bertujuan untuk berperang. Tapi perang yang tidak sebanding itu akhirnya dimenangkan oleh muslimin dengan kemenangan telak.
Tujuh puluh pasukan Quraish terbunuh dan tujuh puluh lainnya tertawan ditangan kaum muslimin.

Kemenangan telak itu bukan karena kepandaian tempur mereka atau kelihaian mereka dalam memainkan pedang. Kemenangan telak itu tiada lain kecuali mutlak milik Allah Ta’ala.

Konflik bersenjata itu dikenal dengan perang Badar. Dinamakan Badar karena lokasi pertempuran tepat di daerah yang bernama Badar.

Baca juga Perang Khandaq

Strategi Perang Uhud Muslimin

Pertempuran ini ternyata tidak membuat kapok kaum Quraish Makkah. Dendam kesumat masih tertanam kuat di hati-hati mereka. Akhirnya mereka memobilisasi pasukan yang jauh lebih besar, dari penduduk Makkah untuk menyerbu kota Madinah Al-Munawwarah.

Intelijen Madinah akhirnya mendapat data tentang rencana operasi Kaum Quraish Makkah, dan disampaikan kepada pemimpin negeri Madinah, Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengumpulkan dewan syuranya untuk membahas strategi pertahanan dari gempuran kaum Quraish mendatang.

Dalam musyarah tersebut para sahabat terbagi menjadi dua belah kelompok dalam menetukan pandangan strategi bertahan.

Sebagian kelompok berpandangan bahwa mereka bertahan di Madinah dari gempuran Kaum Quraish. Sebagian lain berpendapat dengan menyonsong kedatangan Quraih di luar Madinah Al-Munawwarah.

Akhirnya pendapat yang dipilih yaitu, menyongsong musuh di luar Madinah. Meskipun sebenarnya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam lebih condong ke pendapat pertama, yaitu bertahan di Madinah.

Ketika ada sahabat yang menawarkan beliau supaya kembali ke pendapat pertama, beliau menjawab bahwa seorang nabi yang sudah mengenakan baju besi tak pantas melepasnya.

Bentrok Senjata

Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berangkat ke suatu bukit yang di kenal dengan gunung Uhud. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sekitar 50 pemanah untuk menjaga pertahanan ke suatu bukit. Dan berpesan kepada mereka untuk tidak turun dari bukit itu, apapun keadaanya.

Ketika kaum Quraish sudah tiba dengan kekuatan yang cukup besar, terjadilah bentrok hebat antara pasukan muslimin Madinah dengan Pasukan Musyrik Quraish.

Paukan muslimin mempunyai keberanian yang luar biasa hebat, mereka bertempur tapi pikiran mereka mati syahid. Pasukan musyrikin Quraish, mulai merasa terpojokkan.

Gejala-gejala kekalahana sudah menghantui pikiran mereka. Para pejuang Islam melihat masa depan mereka cerah. Kemenangan sudah di ambang mata, apalagi mereka bisa membunuh pembawa bendera pihak musuh.

Baca juga Perang Padri

Strategi Musuh

Khalid bin Walid, komandan pasukan Quraish memutar otak untuk membuat strategi baru yang bisa membalikan arah perang. Dia menyuruh pasukannya untuk mengumpulkan harta-harta mereka di satu tempat. Kemudian berlari dari tempat tersebut.

Sebagian pejuang muslimin melihat kejadian itu, merasakan kemenangan sudah benar-benar terwujud, terlebih lagi mereka mereka melihat ghonimah yang cukup banyak di depan mata mereka.

Sebagian mereka mulai fokus ke harta rampasan. Mereka berbondong-bondong untuk mengambil harta rampasan tersebut. Termasuk diantaranya adalah pasukan pemanah yang berada di bukit gunung. Hanya tinggal seglintir orang saja yang masih bertahan di bukit.

Perselisihan antar sesama pasukan pemanah pun terjadi, sebagian tetap di bukit apapun keadaannya karena itu perintah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian lagi ngotot untuk turun dari bukit untuk menjemput ghanimah yang sudah di depan mata.

Tak disangka ternyata pasukan Quarish memutar arah, menaklukkan bukit, membunuh pasukan pemanah yang masih bertahan, dan menyerang pasukan muslimin yang telah lengah.

Pasukan Madinah ini akhirnya kocar-kacir, banyak yang gugur, dan sebagian mulai lari dari pertempuran dan menaiki gunung untuk menghindari bentrok. Meskipun masih ada juga yang kokoh menghadapi ganasnya serangan, hingga gugur.

Keadaan benar-benar berubah total. Perang benar-benar berbalik arah. Semangat dan keberanian tempur yang membara dan cita-cita syahid yang menghiasi mereka, tiba-tiba berubah menjadi ketakutan yang mencekam. Kemenangan yang di depan mata tiba-tiba berubah jadi kekalahan di pelupuk mata.

Nasi sudah terlanjur jadi bubur. Semuanya telah terjadi, tidak mungkin terulang kembali. Pasukan mengalami kekalahan meskipun bukan kekalahan total, karena kaum Quraish tidak bisa menghabisi total pasukan Islam.

Kalau itu dibilang kekalahan, maka sebenarnya itu cuma kekalahan sementara. Perang secara umum belum selesai, dan Kaum Quraish belum bisa menaklukan Madinah.

Peristiwa besar ini dengan segala kesalahannya yang membuat mereka terpukul mundur, diabadikan di dalam Al-Quranul Karim, menjadi bahan evaluasi dan ibroh bagi kaum muslimin sampai hari kiamat, menjadi pengalaman emas yang tak ternilai harganya.

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖ ۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَ ۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

 اِذْ تُصْعِدُوْنَ وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ غَمًّا ۢبِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِ ۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَ ۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَا ۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْ ۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْا ۚ وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ

Dan sungguh-sungguh, membenarkan kepada kalian (memenuhi) janjinya, ketika kalian membunuh mereka denga izin-Nya, sampai ketika kalian lemah dan saling berselisih dalam perkara itu dan kalian memaksiati setelah Dia (Allah) memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai (kemenangan). Dari kalian ada yang menginginkan dunia dan dari kalian ada yang menginginkan akhirat. Kemudian Dia (Allah) memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. Dan Sungguh-sungguh Dia (Allah) telah memaafkan kalian. Dan Allah Dzat mempunyai karunia (yang dianugerahkan) atas orang-orang beriman.{152}

Ketika kalian menaiki dan tidak menoleh kepada seorang seorang pun sedangkan Rasul menyeru kalian (beliau sedang) di antara (pasukan muslimin) selain kalian, maka dia (Allah) menimpakan kalian kesedihan demi kesedihan supaya kalian tidak bersedih atas apa yang telah melewatkan (kehilangan)kalian dan (supaya kalian) tidak (bersedih atas)apa yang menimpa kalian. Dan Allah Maha Banyak khabar dengan apa yang kalian kerjakan. {153}

Kemudian Dia (Allah) menurunkan keoada kalian setelah kesedihan rasa aman (berupa) kantuk yang meliputi sekelompok dari kalian sedangkan kelompok yang lain telah mencemaskan mereka diri-diri mereka, mereka berprasangka kepada Allah (dengan) sesuatu yang tidak benar (dengan) prasangka jahiliyyah. Mereka mengatakan ” Apakah bagi kami dari urusan ini sesuatu”. Katakanlah (Muhammad) “kalau saja bagi kami dari urusan ini sesuatu, kami tidak terbunuh di sini”. Katakanlah (Muhammad) “Kalau saja kalian di rumah-rumah kalian sungguh keluar ke tempat-tempat kematian kalian, orang-orang yang ditetapkan atas mereka terbunuh”. Dan supaya Allah menguji apa yang ada di dada-dada kalian dan supaya Dia (Allah) membersihkan apa yang ada di hati-hati kalian. Dan Allah Maha Mengetahui dengan apa yang di dada-dada. {154}

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling diantara kalian, pada hari dua kelompok bertemu (bentrok), sesungguhnya tiada lain, menggelincirkan mereka syetan dengan sebab sebagian apa yang kalian usahakan. Dan sungguh-sungguh Dia Allah telah memaafkan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. {155} (QS. Ali Imran: 152-155)

Itulah ayat yang mengupas banyak sekali hikmah dalam perang uhud.

Baca juga Perang Aceh

Apa yang Terjadi setelah Perang Uhud

Pasukan musyrikin Quraish belum benar-benar mengalahkan pasukan muslimin Madinah secara total yang boleh dibilang muslimin belum kalah dan perang belum selesai.

Akhirnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajak dan menyeru pasukan yang terlibat perang Uhud untuk menyusul dan memerangi pasukan Quraish yang hendak kembali ke Makkah. Beliau tak membolehkan ada pasukan yang tak ikut perang uhud untuk terlibat dalam operasi ini.

Pasukan musyrikin pun akhirnya lari tunggang langgang dan ketakutan dengan strategi cerdik Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang itu bisa dibilang, muslimin tidak kalah perang dan bisa mempecundangi musuh.

Hal ini bukti betapa berani dan tangguh Rsulullah Sallallhu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat. Dengan keadaan berdarah-darah mereka melakukan operasi yang sangat berbahaya tanpa bantuan personil, bahkan dilarang untuk melibatkan pasukan tambahan.

Hikmah Perang Uhud

  • Kekalahan pasukan Islam di perang Uhud itu dilihat dari kaca mata syariat dan dari kaca mata teori strategi militer.
  • Secara syariat mereka kalah karena mereka memaksiati Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, secara teori militer       mereka kalah karena mereka melepas kunci strategis yang bisa membawa kemenangan bagi mereka.
  • Ketika hati sudah terpaut dengan dunia, maka hati yang tak takut mati, bisa berbalik jadi takut.
  • Segala urusan harus diselesaikan dengan musyawarah, terlebih lagi menyelesaikan misi-misi besar.
  • Kesalahan terbesar bagi pemimpin ketika ragu-ragu mengambil keputusan.
  • Bermusyawarah, mengambil keputusan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sallallahu ‘alaihi    wa sallam, mempersiapkan, tawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, melaksanakan, dan evaluasi.
  • Memperbaiki kesalahan dengan hal terbaik, kesalahan perang uhud ditebus dengan ketaatan mengejar musuh dengan keadaan berdarah-darah
  • Pertempuran ada kalah ada menang
  • ketaatan membawa kemenangan dengan dibuktikan di perang hamraul asad

……………………..

Terima kasih, anda telah membaca artikel ini Perang Uhud.

 

By : Idaroh

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *