Sejarah Perang Padri di Sumatera Barat, Minangkabau

Penyebab Perang Padri

Perang Padri merupakan konflik yang terjadi di Sumatera Barat, Minangkabau. Perang ini termasuk perang yang panjang yanag mengorbankan banyak nyawa dan harta. Perang ini berlangsung 35 tahun antara tahun 1803-1835 masehi.

Para ulama yang peduli dengan agama masyarakat mulai merasa resah dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang masih melanggar prinsip dasar agama, seperti minum tuak, berjudi, dan lain-lainnya. Haji Sumanik, Haji Miskin dan Haji Piobang yang kembali dari Mekkah setelah haji dan menuntut ilmu merskan perlunya masyarakat Minang kembali ke agama mereka secara menyeluruh.

Sejarah Perang Padri di Minangkabau
Sejarah Perang Padri di Minangkabau (pixabay.com)

Tuanku Nan Renceh dan Harimau Nan Salapan yang melihat kerusakan masyarakat juga punya cita-cita yang sama, melakukan perubahan gaya hidup masyarakat adat di istana Pagaruyung.

Para ulama, mulai dengan tegas menolak kebiasaan buruk tersebut, dan berusaha merubahnya supaya kembali ke jalan Islam yang benar. Persoalan ini bukan tentang persoalan perbedaan mazhab yang masih dalam lingkup ijtihad atau persoalan Islam memerangi adat.

Ini persoalan penyimpangan prinsip yang dilakukan oleh mereka yang mengklim diri mereka melestarikan budaya dan adat. Islam tidak menolak budaya atau adat. Islam mengajarkan saling bertoleran dalam perbedaan yang bersifat ijtihad. Tapi kalau sudah masuk persoalan yang menyangkut prinsip maka harus, tegas, tidak ada kata toleransi.

Perubahanlah satu-satunya cara melawan mereka. Perubahan bisa dengan pendekatan lembut yaitu dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar yang rada tegas.

Rupanya penolakan dari kaum adat itu sangat kuat, lama-kelamaan ini jadi bom waktu yang akan meledak kapanpun. Dan itu benar, maka meledaklah perang antara kaum putih yang dipimpim ulama dengan kaum abangan.

Bentuk Perlawanan

Perang Padri I

Perang yang membesarpun tak terhindarkan. Inilah perang yang cukup besar dalam sejarah nusantara antara sesama penduduk nusantara.

Kaum Abangan atau Adat yang dipimpin Sultan Arifin Muningsyah mulai terhimpit oleh serangan Kaum padri yang begitu militan yang dipimpin oleh Harimau Nan Salapan.

Kaum adat yang judah terjerumus dengan kesalahan besar malah menambah permasalahan yang besar lagi, dengan meminta bantuan Belanda yang taka lebih sebagai penjajah masyarakat Nusantara. Hal ini terjadi di tahun 1821 Masehi.

Bagaimana cara berpikir tokoh-tokoh adat ini? sampai sejauh itu mereka melangkah di luar batas. Kenapa mereka bisa besekutu dengan musuh yang menjajah ratusan tahun negerinya, untuk melawan saudaranya sendiri yang menginginkan kebaikan moral pada bangsanya?

                  Baca juga Perang Khandaq

Genjatan Senjata

Setrategi paling efektif ketika sudah tehimpit atau tak mampu melanjutkan perang adalah dengan penawaran genjatan senjata. Dengan ini ada waktu bernafas untuk bisa meobilisasi pasukan baru, atau mengkonsolidasi pasukan yang sudah ada. Dan kadang juga ada rencana-recana licik untuk menusuk dari belakang kepada musuh perangnya.

Belanda yang sudah terkuras banyak pasukan, persenjataan dan perekonomian untuk melawan kaum paderi yang begitu gigih dan sabar, akhirnya terpaksa menawarkan genjatan senjata kepada Kaum Islamis yang dipimpin Imam Bonjol tersebut.

Tepat pada tanggal 15 November 1825 terjadilah Perjanjian Masang, sebagai bentuk kesepakatan genjatan senjata antara Belanda dan Pejuang Islamis Minangkabau.

Perang Padri (pixabay.com)

Perang Paderi II

Genjatan senjata bagi Belanda tak lebih setrategi licik ala pengkhianat untuk membasmi perjuangan kaum Paderi. Belanda menyerang basis strategis pejuang di Pandai Sikek, satu distrik yang jadi tempat memproduksi amunisi bagi pasukan Paderi.

Pada tahun 1832 Belanda sudah mendapat kiriman passukan dari pasukan Sentot Prawirodirdjo yang dulu menjadi pasukan Diponegoro di Jawa, yang  kemudian membelot ke Belanda. Meskipun konon pihak Belanda mencurigainya bersekonkol dengan kaum paderi yang berujung pada pendepakannya.

Selain pasukan lokal loyalis Belanda, ternyata pasukan Belanda sendiri juga didatangkan dari Jakarta, yang dipimpin Letnan Kolonel Ferdinand P. Vermeulen Krieger di tahun yang sama.

Serangan besar-besar ini membuat pejuang paderi, mulai terpukul mundur sampai daerah Luhak pun jatuh ke tangan mereka. Kaum Paderi juga harus kehilangan pemimpin mereka, Tuanku Rao pada tahun 1833, ketika melancarkan gerilya di Padang Mantinggi. Dalam operasi ini pihak penjajah mengalami kerugian yang cukup besar.

                        Baca juga Perang Uhud

Akhir Perang Paderi

Setelah sekian waktu ternyata belanda dan kaum adat juga cukup kesulitan melawan kaum yang tidak takut mati itu. Kaum paderi mereka berperang untuk meraih kematian, sedangkan apa yang diperjuangkan oleh kaum adat dan Belanda? Mereka berperang untuk hidup, supaya bisa menikmati adat mungkar mereka.

Tentu ini juga menjadi masalah serius bagi mereka untuk menaklukkan pasukan Paderi, sampai Belanda memobilisasi tentaranya besar-besaran dari seluruh penjuru nusntara entah Londo putih atau Londo gosong. 

Dengan izin Allah Ta’ala, kaum adat mulai banyak yang sadar bahwa Belanda jauh lebih mengerikan dari pada Kaum Paderi yang mereka anggap kaku dan ekstrem. Belanda banyak melakukan pembantaian, kezoliman dan kesewenang-wenangan kepada masyarakat Minang termasuk kaum Adat sendiri.

Dengan kesadaran itu Kaum Adat membalikkan moncong senjata mereka, dengan bergabung bersama kaum Paderi melawan penjajah Belanda dan milisi-milisi nusantara bentukannya.

Nasi judah terlanjur jadi bubur. Kalau saja kaum adat tidak begitu keras kepala menentang ulama maka situasinya tidak serumit ini. Kalau saja mereka mau kembali kepada agama mereka niscaya kebaikan, keberkahan, keamanan, kesejahteraan akan dirasakan bangsa Minangkabau.

Memang mungkin ada tindakan berlebihan dari kaum Paderi, dalam menerapkan nilai-nilai Islam ini. Yah, itu sebenarnnya, harus dimaklumi karena tujuan mereka sangat baik dan orang tidak luput dari kesalahan. Jangan sampai kesalahan kaum Padri dibalas dengan pengkhianatan besar, yaitu dengan bergabung dengan penjajah belanda.

Dengan menyatunya kaum Adat dengan Kaum Paderi untuk melawan Londo, membuat Londo benar-benar klabakan dan kewalahan.

Terjadilah kesepakatan antara kaum Adat dengan Paderi dengan munculnya konsesus bersama “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yang berarti adat bersendi syariat, dan sayriat bersendi Kitab Allah.

Kaum paderi tidak memusuhi adat Minang tapi hanya memusuhi kemungkaran dan kemaksiatan yang kebetulan ada  sebagian adat yang masuk kategori maksiat.

Belanda yang sebelumnya memanfaatkan peperangan antara kaum Paderi dan Adat untuk menguasai tanah minang dengan mudah, ternyata harus berhadapan dengan seluru Bangsa Minangkabau. Tapi itu tidak merubah peta pertempuran. Belanda sudah menguasai banyak wilayah Minang.

Meskipun banyak kaum adat sudah sadar dan bergabung, Belanda ternyata juga masih punya strategi lain untuk menghadapi pejuang. Belanda berusaha meredam kemarahan rakyat yang lebih besar dengan mendeklarasikan “Plakat Panjang”, yang menyatakan bahwa kedatangan mereka ke Minangkabau untuk membantu mereka dalam pembangunan, sekolah, dan memberikan keamanan.

Tokoh Perang Padri yang Terkenal

Perang padri melahirkan tokoh-tokoh sejarah yang akan dikenal dalam perjuangan mereka dalam melawan imperialis Belanda, meski diantara mereka juga ada yang menyerah kepada musuh.

  • Tuanku Imam Bonjol
  • Tuanku nan Receh
  • Haji Sumanik
  • Haji Miskin
  • Haji Piobang
  • Harimau nan Salapan
  • Tuanku Rao
  • Tuanku nan Gapuk
  • Tuanku nan Cerdik
  • Tuanku nan Hitam

Dampak Perang Padri

Perang Padri
Dampak Perang Padri (pixabay.com)
  • Korban Jiwa dan Materi

Perang padri telah menelan banyak korban jiwa, entah dari pihak kaum Padri maupun kaum Adat, yang seharusnya tak terjadi. Akan sangat baik bila semuannya kembali kepada ajaran Islam, dan saling menghormati. Bila itu yang terjadi tentu tak akan ada pertumpahan darah.

Selain korban jiwa karena perang sesama kaum Minangkabau, perang melawan Belanda juga menelan banyak korban jiwa.

  • Cengkraman Belanda di Sumatera Barat

Seiring dengan menyusutnya perlawanan kaum Minangkabau melawan Belanda, akhir perang pun dimenangkan oleh Belanda walaupun harus dengan cara-cara yang kotor dan licik, meski sebelumnya Belanda sudah klabakan untuk menumpas perlawanan penduduk Sumatera Barat.

 Baca juga Perang Aceh

Hikmah Perang Padri

  • Meski perang Padri harus menelan banyak nyawa, tapi tentu ada hikmah dibalik semua itu. Kesepakatan antara kaum Adat dengan kaum Paderi dengan dengan adanya konsesus bersama “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yang berarti adat bersendi syariat, dan syariat bersendi Kitab Allah.
  • Kaum adat besedia kembali kepada Islam dan meninggalkan praktek judi, mabuk dan sabung ayam yang bertentangan dengan Islam.
  • Bersatu melawan Belanda
  • Nilai-nilai Islam sangat kental di Minangkabau sampai sekarang

Video Ringkasan Sejarah Perang Padri

Kesimpulan

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari perang Paderi ini. Itulah sejarah yang harus diketahui seluruh Bangsa Indonesia.

  • Perselisihan antara pribumi sebangsa jangan sampai melibatkan negara-negara imperalis besar. Ketika negara-  negara itu mengintervensi dalam perselisihan satu bangsa, dan ada pihak yang membuka lebar-lebar pintu, supaya masuk lebih jauh dalam urusan dalam negeri tersebut,  maka itu akan berujung pada invasi militer.
  • Invasi militer asing ke nagara tertentu ini tak lebih kecuali intervensi militer dan politik pada negeri yang bersangkutan. Harga yang harus dibayar adalah puluhan ribu nyawa masyarakat sipil melayang, pengerukan kekayaan alam, dan perenggutan kebebasan beragama dan berdudaya. Itulah penjajahan.
  • Peta konflik dalam perang Paderi tidak jauh berbeda dengan peta konflik modern sekarang seperti di Afghanistan, Suriah, Irak dan Yaman.
  • Tentara Revolusi Suriah yang ingin menggulingkan rezim sosialist baats Suriah dan menggantinya dengan sistem Islam,  mereka akhirnya harus berhadapan dengan invasi Rusia, yang ingin mencegah kejatuhan rezim Assad.
Perang Padri-Perang Suriah
Perang Padri-Perang Suriah (pixabay.com)
  • Faksi Taliban yang menerapkan hukum Islam di Afghanistan, harus berhadapan dengan faksi-faksi yang condong ke sekuler. Amerika dan NATO akhirnya mengirim tentara yang sangat besar dan menginvasi Afghanistan, dalam rangka membasmi Taliban, dengan dalih perang melawan teroris.

Itulah sejarah ringkas tentang perang padri.

By : Idaroh

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *