Perang Aceh

perang-aceh
Gambar via seeraamedia.org

Perang Aceh– Negara Barat di abad 16 menyebar ke Negara-Negara Asia dan Afrika untuk mencari mangsa jajahan. Mereka merasa superior dalam urusan ras, fisik, kecerdasan, ideologi, militer, dan kecanggihan senjata.

Anggapan tersebut tatkala dipupuk dengan ambisi besar kekuasaan, maka terjadilah intervensi. Mereka mulai menyebar pedagang-pedagang ke berbegai belahan dunia. Perlahan-perlahan mereka mulai mengintervensi bidang ekonomi, kemudian merayap ke politik.

Ketika kebijakan politik negeri setempat, sudah di dekte asing, maka negara asing akan mudah mencekram secara militer.

Itulah yang terjadi di Nusantara ini. Pedagang-pedagang VOC menjalin dagang dengan sebagian kerajaan di Nusantara. Akhirnya mereka punya pengaruh ekonomi yang kuat di daerah tersebut. Sebagian kekuatan kerajaan menjalin kerja sama dengan mereka.

Belanda pun dapat beking, bahkan loyalitas dari para pengkhianat ini. Mereka mulai mendatangkan tentara lebih besar dari negara asalnya, dan membentuk satuan militer dari orang-orang lokal.

Kenapa Sebagian Pribumi Ada yang Loyal kepada Belanda?

perang-aceh
Gambar Via tugassekolah.co.id

Ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Salah satunya karena Belanda membawa budaya kebebasan dan teknologi yang lebih modern yang sangat bertentangan dengan budaya masyarakat pribumi yang gerak-gerik kehidupan mereka terikat dengan nilai agama. Selain itu mereka sangat tertingal dari kemajuan teknologi yang sudah berkembang di Barat.

Meskipun ada juga yang karena iming-iming harta dan ada yang karena permusuhan kepada kerajaan lain, sehingga belanda intervensi untuk membantu satu pihak dalam melawan kerajaan lain, tentu ada kompensasi untuk Belanda.

Keberadaan para “londo gosong” inilah yang menyebabkan cengkraman Belanda semakin lama sampai tiga setengah abad.

Belanda dengan ambisi besarnya dan kebiadabannya mampu menguasai banyak wilayah-wilayah Nusantara. Tapi perlawanan pejuang Nusantara terus berlanjut dan sangat sulit dipatahkan.

Selain banyaknya operasi gerilya di berbagai tempat. Kerajaan Aceh masih becokol kuat di negerinya dan diakui oleh negara lain pada waktu itu. Belanda pun mencurahkan segala upaya untuk menaklukkan Aceh Darussalam.

Perang Aceh Pertama

perang-aceh
Gambar Via wikipedia.org

Perang Aceh pertama berlangsung sekitar satu tahun antara tahun 1873-1874. salah satu latar belakang pecahnya perang ini adalah penandatanganan Traktat Sumatera oleh Inggris dan Belanda.

Traktat yang disepakati pada tahun 1871 ini berisi bahwa Inggris memberikan kebebasan bagi Belanda untuk melancarkan operasi militer di Sumatera dalam upaya memperluas kekuasaan, dan pembatalan Perjanjian London yang ditandatangani pada tahun 1824.

Aceh yang pada waktu itu tidak mau tunduk pada kekuasaan Hindia Belanda, meminta bantuan pada Otoman Turki untuk melawan Belanda yang punya militer yang lebih besar dan senjata yang canggih.

Sultan Mahmud Sah memobilisi rakyat untuk melawan imperalis Belanda. Panglima tentara Aceh pada waktu itu bernama Polim.

Terjadilah pertempuran sengit antara militer Belanda dan antek-antek lokalnya dengan pejuang-pejuang Aceh yang menyebabkan banyak terjadi korban nyawa maupun materi.

Pihak militer Belanda dipimpin oleh Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler yang akhirnya tewas di tangan pejuang aceh, tepatnya setahun setelah perang meledak.

Kematian jenderal kohler menyebabkan Belanda berang. Pukulan telak ini membuat Belanda gila hingga akhirnya mereka melancarkan operasi besar-besaran.

Dalam operasi ini, pihak Belanda mengincar basis pejuang Aceh, Masjid Raya Baiturrahman. Jenderal Kohler tewas dalam perebutan masjid tersebut.

Dalam perang Aceh ini, bisa dibilang Belanda mengalami kegagalan dan harus kembali Jawa. Mereka belum mengenal tabiat perang musuhnya, persiapan pun juga kurang.

Perang Aceh Kedua

perang-aceh
Gambar Via steemit.com

Perang Aceh kedua berlangsung pada tahun 1874 -1880. Perang ini dipimpin oleh jenderal baru Belanda yang bernama Jan Van Switen.

KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) Tentara Kerajaan Hindia Belanda melakukan serangan dengan membabi buta dengan jumlah pasukan yang sangat besar dan senjata yang lebih canggih dari Aceh.

Pada waktu itu wabah kolera menyebar ke berbagai daerah di Aceh. Ribuan pasukan Belanda banyak yang mati karena wabah tersebut, dalam jangka waktu sekitar 6 bukan. Pejuang Aceh pun juga banyak menderita penyakit yang mematikan ini.

Aceh pun akhirnya mulai tergerus tanah kekuasaan mereka oleh Belanda sampai akhirnya kesultanan Aceh pun jatuh ke tangan Belanda dan antek-anteknya. Hal ini terjadi pada tahun 1874, tepatnya pada tanggal 26 Januari.
Meskipun Aceh jatuh, tapi bukan berarti Belanda menang dan perlawannan berhenti. Sultan Mahmud Syah dan pejuang yang masih bertahan menarik diri ke bukit dan melakukan operasi gerilya untuk mengusir tentara Belanda di Aceh yang berhasil menguasai kesultanan Aceh.

Perang Aceh Ketiga

perang-aceh
Gambar Via luk.staff.ugm.ac.id

Perang Aceh ketiga ini pecah di tahun 1881-1896. Belanda sangat kesulitan dan dibuat stres oleh keberanian pasukan Aceh. Meskipun Aceh jatuh dan negeri mereka terjajah, tapi hati mereka merdeka.

Perang yang cukup lama ini membuat Belanda kecapekan. Cengkraman mereka di banyak wilayah Aceh tidak membuat mereka semakin kuat untuk mengendalikan rakyat Aceh.
Perlawanan dari berbagai lapis masyarakat tidak berhenti. Hingga munculah tokoh-tokoh penting yang selalu mengorganisir banyak pertempuran sampai Belanda pun ketakutan.

Tokoh-tokoh ini pun masuk dalam daftar pahlawan nasional negara NKRI ini. Mereka benar-benar tokoh-tokoh pejuang yang turun bersama rakyat, berada di garis depan bersama mereka. Luka rakyat adalah luka mereka.

Tokoh-tokoh pejuang ini tidak asing bagi rakyat Indonesia; Sultan Mahmud Sah, Polim, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro.

Tokoh-tokoh ini berjuang sampai titik darah penghabisan. Bagi mereka keguguran di medan laga merupakan anugerah yang sangat besar, sebaik-baik orang yang mendapat husnul khotimah.

Pada tahun 1899 pasukan Belanda yang dipimpin Van der Dussen melakukan serangan ke Meulaboh yang mengakibatkan Teuku Umar gugur. Beliau merupakan penggati Teuku Cik Di tiro dalam memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda.

Kepemimpinan perjuangan pun diwarisi oleh istri beliau, Cut Nyak Dien. Beliau cukup lama mengorganisir gerilya melawan Londo. 

Perang Aceh Keempat

Gambar Via luk.staff.ugm.ac.id

Perang Aceh keempat berkobar pada tahun 1896-1910. Banyak tokoh-tokoh perlawanan gugur, tertangkap dan bahkan ada yang menyerah, tapi perlawanan terus berlanjut.

Sifat menyerahnya sebagian pemimpin tidak menggambarkan sifat kepecundangan rakyat Aceh. Itu murni perilaku pribadi mereka.

Rakyat Aceh, merupakan rakyat yang punya kehormatan, wibawa dihadapan bangsa lain, keteguhan, kesabaran dan keberanian.

Perlawanan rakyat Aceh dalam periode ini tidak dikoordinasi oleh kesultanan. Pada tahun 1902 tepatnya pada tanggal 26 November, Belanda mampu menangkap Sultan Muhammad Daud Syah. Tahun 1903 Raja Keumala dan Panglima Polim menyerah ke pihak musuh.

Ketiadaan pemimpin mereka tidak meniadakan jiwa merdeka mereka. Perlawanan dalam bentuk gerilya tetap berlanjut, meskipun akhirnya Belanda berhasil menguasai seluruh Aceh pada tahun 1910. Perang Aceh tercatat sebagai perang terlama yang dilancarkan oleh Belanda dalam menaklukkan sultan-sultan Nusantara.

Strategi Perang Aceh

perang-aceh
Gambar Via islamidia.com

Dalam operasi militer, agen intelijen, berperan pentin dalam mensukseskan misi tersebut. Belanda memanfaatkan Dr. Christaan Snouck Hurgronje untuk menggali lebih jauh tentang budaya, karakter, tabiat, agama, sistem pemerintahan rakyat Aceh.

Snouck Hurgronje yang mengaku muallaf bahkan pernah belajar di Makkah, mampu memberikan kesan bahwa dia bersama rakyat Aceh. 

Ia memberikan arahan strategi kepada tentara Hindia Belanda supaya memprioritaskan penyerangan kepada pejuang gerilya, terutama para ulama yang menjadi komandonya dan mengesampingkan para sultan di Aceh.

Politik devide et impera pun mulai dijalankan. Mereka menawarkan jasa dan layanan untuk memperbaiki kehidupan rakyat Aceh kepada pejabat-pejabat Aceh, dan membentur-benturkan dengan pejuang gerilya yang dibawah komando ulama.

Banyak pejabat yang terjebak dengan bujuk-rayu Belanda hingga akhirnya mereka loyal ke negara imperialis trsebut, bahkan malah berbalik arah memusuhi ulama dengan murid-muridnya yang tetap kokoh dalam mengusir penjajah.

Ketika ulama dan pejabat Aceh saling berbeda arah maka kekuatan Aceh mengikis.  Snouck Hurgronje dengan kecerdikannya tahu bahwa perlawanan yang sangat sulit dipatahkan itu bermuara dari ulama dan pejuang gerilyanya.

Mereka begitu solid dan militan karena aqidah perjuangan Islam begitu melekat pada mereka. Ulama lah yang punya andil dalam menanam aqidah yang membuat mereka begitu gigih dalam perjuangan.

Sehingga salah satu cara untuk mematahkan perlawanan mereka dengan membenturkan sesama mereka.

Latar Belakang Perang Aceh

Gambar Via luk.staff.ugm.ac.id

Perang Aceh tidak jauh berbeda dengan perang-perang lain yang dilancarkan Belanda di Nusantara. Ringkasnya, invasi Belanda di berbagai wilayah di Nusantara tak lepas dari gold, gospel dan Glory (3G), termasuk invasi mereka ke Negeri Aceh.

Belanda dalam invasinya sangat berambisi untuk mendapatkan glory (kejayaan dan kekuasaan), Gold (emas dan kekayaan), dan menyebarkan gospel (ajaran agama).

Itulah latar belakang secara umum dalam perang Aceh. Berikut ini latar belakang secara khususnya.

Traktat Sumatera

perang-aceh
Gambar Via pendidikan60detik.blogspot.com

Sebagaimana sudah diterangkan sebelumnya, pada 17 maret 1824, munculah Traktat london. Dalam Traktat London tersebut dinyatakan bahwa Aceh negara merdeka yang diakuai oleh bangsa-bangsa lain, sehingga Belanda tidak boleh memperluas wilayahnya ke Aceh.

Dengan ada Traktat Sumatera yang membatalkan traktat sebelumnya itu, belanda mendapat angin segar plus lampu hijau dari Inggris untuk memperluas daerah jajahannya.

Inggris yang pada waktu itu menguasai belanda, merasa diuntungkan dengan adanya Traktat Sumatera yang ditandatangani pada tanggal 2 november 1871. Mereka juga akan mendapat komisi dari hasil rampokan Belanda di Aceh.

Kesultanan Aceh Mempunyai Pelabuhan yang Strategis

perang-aceh

Kesultanan Aceh menguasai pelabuhan strategis yang menjadi tempat pusat belabuhnya kapal-kapal dagang internasional. Hal ini jadi peluang penting untuk mendapat berbagai keuntungan yang berlipat.

Tentu ini jadi nilai tawar sendiri bagi Belanda, untuk menguasai kesultanan Aceh.

Disaat yang bersamaan Terusan Suez di buka resmi. Tentu hal ini juga berdampak pada pelabuahan Sumatera. Pelabuhan Sumatera semakin ramai dan strategi di mata dunia internasional.

Menolak Intervensi Belanda

Penolakan kesultanan rakyat Aceh menjadi pemicu cukup besar dalam berkobarnya perang Aceh. Belanda tidak ingin mengeluarkan banyak biaya dalam menguasai Kesultanan Aceh.

Kerajaan Hindia Belanda berusaha mencekram Aceh dengan intervesi sistem politik dari pada harus perang habis-habisan yang banyak merugikan nyawa dan materi. Tetapi Aceh, tidak mudah menjalin hubungan dengan pihak Belanda. Nilai tawar kedaulatan mereka terlalu mahal.

Mereka menutup rapat-rapat celah yang mudah dimasuki belanda untuk intervensi politik dan budaya masyarakat Aceh yang sangat bertolak belakang dengan budaya Belanda.

Mereka tidak mau kebijakan politik, budaya Islami mereka diintervensi Penjajah Belanda hanya karena iming-imingan materi. Itulah bangsa Aceh yang teguh membela negara, kehormatan dan agama.

Belanda pun akhirnya berani untuk mengambil nilai tawar yang terlalu mahal tersebut.

Kesimpulan

Bangsa berdaulat yang punya harga diri, wibawa, dan kemuliaan adalah bangsa yang menjujung tinggi nilai-nilai moral, akhlaq, kebaikan, kebenaran dan religi Islami yang mereka percayai dan membelanya, sehingga pihak-pihak luar tidak mengintervensi negara tersebut.

Bangsa Aceh bisa jadi contoh bagi masyarakat dunia bahwa nilai tawar kedaulatan bangsa adalah darah.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *