Masuk Karantina Suci

Gambar via pixabay.com

Lulus Madrasah Ibtidaiyyah

       Sebelum saya masuk karantina suci, pada tahun 2006 saya punya status baru yaitu alumni dari sekolahan yang bernama Madrasah Ibtidaiyyah Darul Falah yang terletak di satu desa madani di Sragen.

Sebelum saya lulus sekolah madrash ibtidaiyyah itu, saya ditawari oleh orang tua untuk melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren yang cukup jauh dari rumah, untuk ukuran seusia itu.

Dan ternyata dari pihak sekolah madrasah ibtidaiyyah juga merekomendasikan untuk masuk kepesantren tersebut. Meskipun itu bukan sebuah keharusan.

          Kebanyakaan teman-teman saya terutama dari murid perempuan, tidak mau masuk karantina suci tersebut, dengan berbagai alasan, entah karena ggak mau jauh dari orang tua, atau mungkin ada yang nggak mau mondok dan nggak mau ribet dengan persyaratannya.

Karena memang persyaratan masuk pesantren ini cukup ribet, dan nggak cuma ribet tapi juga cukup berat.

Awal masuk saja sudah cukup berat. Murid harus diuji di pesantren dengan ujian khusus selama satu bulan penuh, dan harus di gembleng dengan gemblengan khusus.

Kegiatan seperti ini mungkin juga jadi pemicu keengganan bagi sebagian anak untuk masuk kepesantren tersebut.

       Teman-teman saya dari kalangan lai-laki yang ikut ujian masuk pesantren ini ada lima anak, yang satu kakak kelas saya dulu.  Hanya satu teman laki-laki yang tidak mengikuti masa tes ini.

Sedangkan dari teman-teman perempuan hanya ada empat anak (seingat saya) yang punya kemauan untuk melanjutkan sekolah di pesantren tersebut, dari sekian banyak murid perempuan.

Kebanyakan murid-murid di madrash ibtidaiyah tersebut lebih tertarik untuk masuk ke pesantren setempat, karena lebih mudah untuk masuk, dekat dengan rumah, dan yang menggiurkan, anak yang dekat dengan rumahnya, makan kesehariannya di rumah.

Yah, seperti tidak mondok lah!

         Pesantren setempat ini memang kepanjangan dari madrash ibtidaiyyah tempat saya belajar selama enam tahun sebelum melanjutkan jenjang pendidikan di pesantren.

Meskipun begitu pihak pengurus madrash ibtidaiiyah lebih menyarankan untuk masuk karantina suci, tempat belajar saya selama beberapa tahun sebelum ini.

Sebelum masuk karantina suci ini atau jadi anggota resmi di tim pesantren tersebut,peserta  harus melalui kegiatan khusus yang dilaksanakan selama satu bulan penuh.

Kegiatan ini biasa disebut dengan orientasi.

Kenalan dengan Pesantren

        Sebelum saya menerangkan kegiatan tentang orientasi, sekiranya saya perlu menerangkan tentang pesantren ini. Pesantren yang pernah menjadi bagian hidup saya ini tidak jauh berbeda dari pesantren umumnya, yaitu mengajarkan agama.

Memang kalau kita perhatikan, secara umum pesantren itu jadi tempat alternatif untuk belajar agama secara totalitas bagi remaja muslim di tengah minimnya pendidikan berbasis agama di sekolah-sekolah umum.

        Pesantren ini terkenal dengan nama Mahad Al-Islam atau kadang juga disebut Pondok Al-Islam. Pesantren ini didirikan oleh kyai yang sudah cukup sepuh, sudah berumur 70-an tahun yang biasa dikenal dengan KH. Ustadz Mudzakir hafizhahullah.

     Tujuan beliau mendirikan pesantren ini untuk membentuk generasi muda yang kenal dengan agamanya, kemudian mengamalkannya, menyampaikannya kepada masyarakat yang belum mengenalnya  dan memperjuangkannya sampai benar-benar aturan-aturan agama ini bisa terealisasikan di bumi nusantara yang makmur lan gemah ripah loh jinawi ini.

        Pesantren Al-Islam ini berdiri di tengah keprihatinan beliau sebagai kyai dan mubalig kepada sistem pendidikan umum pada masyarakat yang berbasis pada sekularisme.

Bahkan banyak nilai-nilai yang bertentangan dengan agama Islam ini, dijejalkan ke pada anak bangsa.

Kalau generasi muda bangsa ini jauh dari nilai-nilai agama, maka masa depan bangsa ini adalah kehancuran, karena degadrasi aqidah dan moral pengemban amanah bangsa.

       Selain tujuan-tujuan itu tentu ada tujuan pribadi beliau yang ini lebih penting bagi beliau selaku pendiri dan pengasuh pesantren ini, yaitu mencari ridho dan pahala dari Allah SWT.

Tentu harapan beliau, segala kegiatan positif yang berjalan di pesantren ini, beliau mendapatkan pahala darinya sewaktu masih hidup sampai meninggal dunia.

Saya selaku santri yang mendapat banyak ilmu agama dari beliau tentu berharap demikian.

        Semoga Allah SWT senantiasa menjaga beliau melimpahkan rahmat kepada beliau, sehingga tetap istiqomah dalam mendidik santri, berdakwah kepada masyarakat luas, amar maruf nahi mungkar dan memperjuangkan ajaran yang sangat mulia ini sampai akhir hayat beliau. Amiin.

Orientasi Pintu Masuk Karantina Suci

          Kalau kita perhatikan pesantren-pesantren yang bertebaran di bumi Nusantara ini kita akan mendapati bahwa sebagian pesantren tidak serta-merta menerima anak yang didaftarkan jadi calon pelajarnya.

Ada berbagai timbangan pada kebijakan tersebut, entah karena terlalu banyaknya santri  resmi atau memang pihak pondok menginginkan anak-anak pilihan dengan kesungguhannya dan kemauan kuatnya.

Sehingga pihak pesantren harus membuat satu kegiatan khusus  dengan panitia khusus, sebagai sarana penyeleksi mana murid yang layak jadi anggota keluarga besar pesantren dan mana yang belum layak.

         Di pesantren Al-Islam kegiatan tersebut dikenal dengan nama orientasi. Mari kita lihat apa arti orientasi di KBBI. Orientasi adalah peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dan sebagainya) yang tepat dan benar.

Kalau santri situ sering menyebutnya dengan istilah taujih. Acara ini dimulai dipertengahan bulan syakban sampai pertengahan romadhon. Dan pendaftaran untuk kegiatan ini dibuka satu bulan sebelumnya.

        Kegiatan ini diadakan sebagai  ajang pengarahan, penggemblengan dan ujian bagi  peserta sekaligus seleksi.

 Peserta orientasi akan di beri pelajaran tertentu yang berkaitan dengan syariat dan akhlaq seperti cara whudhu, mandi janub, shalat dan adab-adab sebagai mukmin yang mulia,  disertai dengan  arahan-arahan bagaimana menjadi santri yang mandiri dan disiplin.

Anak-anak diajarkan skil yang harus dikuasai orang yang mandiri, seperti cara menyetrika yang baik, mencuci pakaian atau peralatan makan, memasak, mengenal kompor  gas, mengenal intalasi listrik, penyebab konsleting dan bagaimana penangannya.

         Pihak pengurus orientasi kadang juga mengadakan uji  nyali di pemakaman sebelah pondok. Acara ini mungkin sekarang sudah ditiadakan karena tetangga terganggu dengan teriakan anak ketakutan karena melihat pocong dan memedi jadi-jadian.

 Ujian orientasi

Gambar via pixabay.com

        Masuk karantina suci ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan, harus melalui ujian. Ujian atau tes, masuk dalam kategori acara inti dalam kegiatan ini, karena hasil ujian ini bagian dari penentu penerimaan murid baru.

Anak peserta akan diberi soal-soal matematika dan bahasa Indonesia. Mereka juga harus mengajukan hafalan juz Al-quran dan hadits-hadits yang sudah ditentukan oleh pihak berwenang.

          Madrasah-madrasah yang merekomendasikan muridnya untuk nyantri di situ, biasanya mendapat kurikulum dari panitia pesantren atau  sudah menyinkronkan kurikulum madrasah dengan persyaratan masuk pesantren tersebut.

Sehingga biasanya anak yang lulus dari madrasah itu sudah punya hafalan dan dapat materi yang bisa jadi bahan ikut orientasi.

Hidup di Pondok

Gambar via pixabay.com

           Saya sebagai alumni dari pesantren ini tentu pernah mengalami masa-masa yang indah lagi mengesankan ini, masa sebagai seorang anak berumur 12 tahun yang harus berpisah cukup lama dengan kedua orang tua dan adik-adik tercinta untuk tinggal di satu tempat yang cukup jauh dari rumah dengan lingkungan dan komunitas baru dengan segala masalah dan karakternya yang berbeda-beda.

Itulah masa-masa yang berat sebagai seorang santri yang belum jadi anggota santri resmi.

          Tentu yang pernah mengemban pendidikan bebasis pondok pernah mengalami masa-masa yang berat di awal langkahnya.

Dia tidak krasan. Dia akan menangis karena ingin pulang, kangen dengan kedua orang tua dan adik-adiknya tersayang. Kalau dia malu menangis di depan teman, dia akan menangis di tempat yang sepi atau di kamar mandi.

Bahkan kalau rasa ketidakkrasanannya sudah cukup parah, dia akan melarikan diri dari pesantren untuk pulang.

Ada yang berjalan kaki sampai rumah, padahal jarak rumahnya dengan pondok puluhan kilo meter, ada yang numpang truk, dan ada yang naik bus dengan imbalan barang karena tidak punya uang. Kasus-kasus seperti ini memang lumrah di pesantren.

           Yang mengkhawatirkan tatkala yang melarikan diri pulang ke rumah yang jauh ini anak perempuan sendirian, yang rawan diganggu dan tidak mampu membela diri.

Kejadian ini pernah terjadi di pesantren saya, sehingga pihak pondok harus mengerahkan perangkat keamanannya yang tersebar di berbagai kota untuk mencarinya dan mengamankannya.

Meskipun pihak keamanan gagal menjalankan misinya, tapi, alhamdulillah, dia sampai ke rumah dengan selamat wal afiyat dengan izin Gusti Allah taala.

Munkin ini secuil oret-oretan tentang masuk karantina suci yang insyaallah diberkahi dan disucikan oleh Allah SWT. Walhamdulillah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *