Kehilangan Orang Tercinta

Gambar via pixabay.com

Kehilangan

Setiap mahluk yang ada ini pasti yakin, bahwa apa yang dia miliki atau orang yang selalu meyertai dan menemaninya suatu saat akan datang waktu di mana mereka itu tidak bisa lagi bersamanya, dan dia tidak akan melihatnya lagi.

Singkatnya, mereka semua akan sirna, musnah,atau mati, meninggalkan orang sekitarnya yang selalu mereka cintai dan sayangi.

Bahkan orang-orang yang kehilangan itu juga sangat begitu yakin bahwa dia juga jadi posisi itu suatu saat nanti.

Kehilangan orang-orang yang kita cintai itu, sangat berat, membuat hati perih, dan menyesakkan dada. Tapi suatu kepastian yang tidak bisa dihindari, atau diakhirkan temponya, meskipun cuma satu menit.

Semua terjadi tiba-tiba, tanpa kita sadari sebelumnya apalagi kita prediksi. Semua terjadi seakan begitu cepat. Tapi itulah takdir yang sudah tertulis. Tidak ada yang bisa melawan ketetapan Allah taala.

Kematian

Harus kehilangan orang yang kita cintai dan sayangi memang sangat dan sangat menyedihkan. Tapi ada hal yang lebih berat, lebih menyesakkan dada dari itu semua.

Tatkala kitalah yang harus meninggalkan mereka, berpisah dengan mereka untuk seterusnya. Kesedian kehilangan tidak jauh berbeda dengan yang akan meninggalkan.

Tapi menghadap Allah taala, dengan membawa dosa dan tidak punya bekal, itulah yang paling menyedihkan tatkala kita satu saat nanti harus berpisah dengan kehidupan dunia yang fana ini.

Bekal apa saja yang sudah kita siapkan di dunia yang hina ini untuk menghadap Allah taala. Sudahkah kita siap, tiba-tiba kita, mau tidak mau harus menghembuskan nafas terakhir kita dikehidupan ini.

Kematian tidak mengenal umur, akan menyergap yang tua, yang paruh baya, yang muda, yang remaja, yang balita dan yang bayi, Tidak kenal waktu, Tidak kenal status sosial, dan tidak kenal kompromi.

Kematian tidak membedakan antara yang sakit dengan yang sehat, yang kuat dengan yang lemah, yang kaya dengan yang miskin, yang kelaparan dengan yang kekenyangan dan yang pinter dengan yang bodoh.

Hal yang dikhawatirkan banyak ini, juga tidak mengenal tempat. Kesatria di medan laga belum tentu lebih cepat kemataiannya dengan orang yang hidup aman dibalik benteng dan pertahanan yang kuat.

Tidak ada istilah kematian itu lebih dekat dengan orang yang ada di medan pertempuran dari pada orang yang tinggal ditempat sangat aman.

Kematian dekat dengan semua orang, karena tidak ada yang tahu kapan dia akan mengalami mimpi buruk ini, di mana itu akan terjadi, dan bagaimana proses kejadiaanya.

Tidak ada yang lebih penting sekarang kecuali mempersiapakan bekal sebanyak-banyaknya dan menjahui dosa sejauh-jauhnya.

Kesabaran

Kesabaran memang amalan yang sangat mudah diucapkan, cukup berat dikerjakan dan sangat kompleks.

Kesabaran itu meliputi; sabar dalam menjalankan perintah Allah taala, sabar dalam meninggalkan larangan-larangan Allah taala, dan sabar tatkala tertimpa musibah, apapun musibahnya.

Kesabaran itu memang berat tapi itu kunci kesuksesan. Untuk jadi orang sukses, dapat dolar yang melimpah, perlu kesabaran ketika berjuang. Apa lagi saat kegagalan itu menghampiri.

Kalau urusan dunia saja kesabaran itu harus dinomersatukan apalagi untuk urusan akhirat yang jauh lebih  mahal harganya.

Kehilangan orang kita cintai

Semua orang pasti pernah dan akan mengalami ini, saat dimana kita tidak melihat lagi orang yang biasa kita lihat.

Tidak ada obrolan dengan dia lagi, tidak ada guraun yang mengasikkan  dengannya, yang ada hanya kenangan dari itu semua.

Kenangan yang tak terlupakan bahkan kadang membuat hati begitu teriris tatkala harus mengingatnya.Tetesan arti mata kesedihan selalu membasahi pipi.

Kakek

Setelah luslus dari madrasah ibtidaiyyah, harus masuk ke jenjang pendidikan lanjutannya. Beberapa bulan berlalu di pesantren, saya dan keluarga harus kehilangan kakek yang sangat kita cintai tepatnya di tahun 2006.

Kakeklah yang selalu membuat cucunya riang gembira. Beliau membuatkan mainan dari kayu, menenang cucunya tatkala nangis,dan mengajarkan banyak hal.

Betapa sedihnya saya tatkala harus kehilangan beliau, di awal-awal nyantri dan tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali.

Orang tua pada waktu punya kebijakan untuk tidak menjeput pulang saya, karena dikhawatirkan, kalau pulang dengan keadaan seperti itu saya tidak mau balik ke pesantren. Saya dapat informasi beberapa minggu setelahnya ketika orang tua menjenguk ke pondok.

Tidak ada hal yang bisa lakukan untuk beliau kecuali doa. Semoga beliau tergolong orang-orang sholeh yang mendapat ridho dari Allah taala.

Nenek

Tepatnya tahun 2007, pada waktu itu saya sudah menginjak kelas dua tsanawi. Setelah satu tahu berlalu saya kehilangan kakek tercinta, waktu saya harus kehilang orang terdekat saya, yang selalu mengasuh saya yaitu nenek.

Seseorang datang ke pesantren menjemput saya supaya saya bisa pulang dan takziyah. Hati memang sangat berat harus kehilangan orang tercinta. Tapi takdir berkata lain.

Beliau orang tau yang sangat hebat, tidak pernah menyia-nyiakan waktu luang. Setiap waktu luang beliau gunakan untuk membac Al-Quran, atau kegiatan yang manfaat lainnya. Beliau sangat rajin sholat sunnah.

Beliau sangat dermawan, tidak ada rasa eman dengan apa yang beliau miliki. Beliau selalu menasehati cucu-cucunya untuk tidak menonton TV.

Semoga amalan beliau diterima disisi Allah. Amiin.

Si Bayi

Saat saya menginjak kelas dua SMA pesantren, saya harus kehilangan adik kecil yang lucu dan sangat menggemaskan. Itu benar-benar memukul hati saya. Saya bisa membersamainnya hanya beberapa kali saja, tepatnya, ketika liburan atau pas dijenguk di pesantren.

Satu minggu sebelum dia harus menghembuskan nafas terakhirnnya, saya menggendongnya dan mencandainnya, ketika ikut orang tua menjenguk saya di pondok.

Betapa sangat perih hati ini, satu minggu setelahnya harus kehilangan dia. Semoga ini bisa jadi celengan pahala untuk orang tua saya yang begitu sangat sedih.

Kakek dari Bapak

Tepatnya mungkin tahun 2013, saya harus kehilangan kakek tercinta yang berkondisi sudah jempo. Berita ini sangat menyentuh hati saya, bagaimana tidak, sebelumnya saya sudah kehilangan kedua kakek dan nenek saya tercinta. Beliau sudah tidak bisa apa-apa lagi. Beliau meninggal dalam posisi dirawat oleh bapak saya.

Waktu itu saya harus pulang dari pesantren untuk ikut berkabung selama 3 hari. Semogga Allah menerima amalan beliau.

Budhe

Pada tahu 2013, kalau ndak salah, saya harus kehilangan budhe. Status beliau bagi saya juga ibu susuan, sehingga saya mahram dengan putri-putrinya.

Beliau adalah perempuan yang begitu tangguh, harus mengasuh dan mendidik 10 anak, yang bukan sedikit, dengan ekonomi, bisa dibilang, sangat mepet.

Dengan keadaan seperti itu, beliau sangat perwira, bahkan sangat dermawan melebihi kedermawanan orang lain yang cukup kaya.

Beliau meninggal ketika melahirkan anak yang kesebelas. Si jabang bayi juga tidak tertolong. Semoga beliau diterima amalannya di sisi Allah taala.

Anak Pertama Budhe

Kabar meninggalnya putri pertama budhe saya yang lebih dulu menghapap Allah taala,benar-benar menggegerkan seluruh penduduk desa saya. Betapa berat derita yang menimpa pakde dan anak-anaknya.

Dalam setahun beliau harus kehilangan istri dan anak yang sangat beliau cintai. Si kakak sepersusuan saya itu meninggal dlam tragedi yang sangat mengerikan.

Beliau meninggal dalam kecelakaan dengan kondisi sangat mengenaskan. Naudzubillahmindzalik. Beliau termasuk perempuan muda yang tangguh, sebagai anak mbarep, yang harus membantu orang tua dan adik-adiknya.

Semoga Allah taala menerima amalannya dan mengampuni dosannya.

Teman Hebat

Di tahun yang sama saya harus kehilangan teman yang sangat hebat. Beliau santri yang lulus tercepat di angkatan saya, bahkan membalap kakak kelas.

Beliau pemuda yang saat taat kepada Allah, Rasul-Nya, para ustadznya dan orang tuanya. Beliau seorang hafidz dan sangat rajin beribadah dan tidak menyia-nyiakan waktunya.

Saya temasuk teman dekatnya, teman sekelas sejak masuk pesantren. Orang yang dekat beliau akan mengira, seakan-akan beliau orang sudah menceraika kehidupan dunia ini, dan ingin segera bertemu dengan Allah taala.

Beberapa bulan setelah beliau lulus dari pesantren dan dikirim jadi pengajar di satu daerah, beliau mengalami tragedi kecelakaan yang menyebabkan beliau meninggal.

Di malam beliau meninggal, sempat menemui kakaknya yang masih di pesantrenya.Di tengah perjalanan menuju tempat mengajarnya, beliau harus menghirup nafas terakhirnya dalam kecelakaan.

Semoga Allah taala, amalannya, dakwahnya dan perjuangannya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *