Karantina Suci untuk Gundul Plontos

Gambar via pixabay.com

Table of Contents

Karantina Suci

Pada artikel sebelumnya, saya menulis tentang pengalaman pertama saya masuk karantina suci sebagai calon santri resmi yang masih dalam tahap seleksi. Sebelum membahas lebih jauh tentang karantina suci ini, maka boleh lah saya membahas, apa itu karantina suci? Kenapa saya pakai istilah yang aneh itu. Mungkin ada sebagian pembaca yang belum ngeh . Tapi saya yakin para pembaca sudah banyak yang bisa menerawang apa yang dimaksud dengan karantina suci.

Silahkan dicari di KBBI! Jangan malas membuka kamus! Membuka kamus itu hal simpel dan sepele tapi rodo ribet. Kalau tidak punya kamus, ya install aja aplikasinya di smarphone atau komputer anda! Saya yakin pasti, para pembaca di sini sedang pegang smartphone atau di hadapan komputer.

Supaya artikel ini bisa panjang sesuai target yang ditentukan, maka sekiranya saya perlu menerangkan apa yang dimaksud karantina, sesuai dengan kamus bahasa Indonesia, dan apa yang dimaksud dengan karantina suci dalam artikel ini.

Makna karantina dalam kamus bahasa Indonesia yaitu, tempat penampungan yang lokasinya terpencil guna mencegah terjadinya penularan (pengaruh dan sebagainya) penyakit dan sebagainya. Sedangkan makna suci yaitu, bebas dari dosa; bebas dari cela; bebas dari noda.

Maksud karantina dalam artikel ini terserah mau dimaknai kiasan atau lugas. Tentu kalau kiasan, maka kiasan yang saya buat-buat, bukan yang sudah baku dalam bahasa indonesia.

Kalau kita perhatikan beberapa makna kata kiasan itu masih berbau makna lugas. Mungkin anda perlu contoh. Makna lugas kata kepala adalah, bagian tubuh yang diatas leher (pada manusia dan beberapa jenis hewan merupakan tempat otak, pusat jaringan saraf, dan beberapa pusat indra).  Makna kiasannya yaitu pemimpin atau ketua.

Kepala adalah penggerak dan penentu kebijakan anggota tubuh. Kalau kepala diartikan pemimpin yang menjadi motor dan penentu keputusan dalam satu organisasi, maka makna kiasan itu masih berkaitan dengan makna lugas.

Saya berasumsi bahwa pesantren itu termasuk karantina.  Sebagaimana yang telah saya paparkan sebelumnya tentang arti karantina dalam KBBI, maka pesantren adalah satu penampungan yang terpencil dari komunitas lain untuk mencegah pengaruh asing masuk ke situ, dalam rangka mencetak satu komunitas dengan karakter khusus.

Pesantren, meskipun kadang secara geografis tidak terpencil dari komunitas lain, tapi di sana ada sistem yang membuat santri terpencil dari yang lain. Ada aturan-aturan yang membuat pergaulan dengan komunitas lain terbatas, supaya tidak terjangkiti hal-hal yang tidak diinginkan.

Adapun kata karantina disandingkan dengan kata suci, karena penghuni-penghuni karantina ini sedikit banyak dipaksa untuk belajar akhlaq dan syariat dan mengamalkannya sehingga memiliki karakter yang jauh dari dosa.

Untuk mencetak pemuda yang punya karakter seperti ini, bisa dibilang tidak mudah, butuh perangkat yang punya sistem khusus yaitu karantina suci.

Inilah sistem kuno yang sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam, sistem yang mencetak generasi rabbani dan generasi pembebasan. Para ulama dan santrinya lah yang mempelopori perjuangan Islam dan kemerdekaan di berbagai belahan dunia Islam yang tertindas dan terjajah, termasuk di negeri Nusantara yang dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun.

Peraturan

Gambar via unsplash.com

 

 

Pesantren bisa dibilang pergerakan atau juga organisasi. Setiap pergerakan atau organisasi, bisa dipastikan ada peraturan-peraturan yang menjadi bagian dari sistem penggerak organisasi tersebut untuk mencapai target tertentu.

Tujuan pendirian pesantren secara umum tidak jauh berbeda dari satu pesantren dengan yang lain, yaitu mencetak komunitas belajar, mengamalkan, mengajarkan, dan memperjuang ajaran Islam.

Terkadang setiap pesantren memiliki sistem yang berbeda, sehingga peraturan-peraturannya pun ada yang berbeda. Perbedaan itu juga karena setiap pesantren punya target tertentu yang lebih spesifik atau standar pendidikan yang berbeda. Tentu juga sistem yang mereka bangun itu yang mereka rasa paling efisien, dengan pertimbangan dan pengalaman yang telah mereka lalui.

Nilai minus plus sudah seharusnya ada setiap  sistem pendidikan. Potensi kebocoran setiap sistem buatan manusia itu pasti ada. Jarene No system is safe. Yang terpenting tatkala kebocoran itu terjadi segera di perbaiki.

Gambar via pixabay.com

 

Pada artikel ini saya akan menampilkan beberapa peraturan di pesantren Al-Islam yang pernah jadi tempat hidupku. Aturan-aturan ini tidak dibuat dalam sekali waktu atau di awal pendirian pesantren. Aturan ini muncul bertahap, tatkala muncul ketidakdisiplinan atau penyelewengan para santri atau mungkin hanya satu santri, maka jangan heran kalau akan ada peraturan baru. Sebagian peraturan bahkan ada yang bersifat fundamental.

Mungkin ada sebagian aturan yang boleh dibilang asing kalau dibanding dengan pesantren-pesantren lain yang ada di Indonesia, bahkan dalam lingkup international. Aturan ini cukup berat dijalankan, meskipun sebenarnya simpel. Aturan itu berupa gundul plontos.

Berikut ini mungkin aturan-aturan pesantren selain gundul plontos, yaitu; tidak boleh membawa uang, tidak boleh membawa atau menggunakan peralatan elektronik. Aturan-aturan ini bersifat prinsip.

Gundul

Kebanyakan orang tidak rela kalau harus kehilangan semua rambutnya. Bagi mereka rambut bak mahkota. Yah mahkota gawan laer. Bahkan ada yang mengatakan rambut itu setengan ketampanan. Berapa banyak orang mengeluarkan biaya cukup besar untuk mempercantik rambut, demi menambah ketampanan dan pesona.

Semua santri bisa dipastikan mereka keberatan dengan aturan ini. Bayangkan! Di usia remaja, usia puberitas, usia di mana anak gemar berdandan dan berkaca, Mreka harus gundul plontos bertahun-tahun, ada yang 7 tahun, 8  tahun, 9 tahun, bahkan ada yang 13 tahun. Ini tergantung berapa lama dia nyantri di situ.

Tapi karena ini peraturan apa boleh buat? Yah, dalam rangka mencari ridha Allah, dalam rangka menuntut ilmu agama, dan dalam rangka mencari barokah dari Allah, maka tak mengapalah harus menggundul kepala sampai plontos untuk jangka waktu yang cukup lama.

Tatkala ini dijalankan oleh santri dengan ikhlas dan sabar, maka inyaallah, pahala, barokah dan ilmu yang akan dia dapatkan. Ketiga hal pokok yang menjadi kebutuhan primer hidup kita itu tidak didapatkan dengan gratis. Harus ada ujian yang harus dilewati.

Setiap 3 minggu sekali santri harus gundul dan tidak boleh gundul pakai alat cukur yang terpasang sepatu. Sehabis liburan, santri harus sudah gundul sebelum masuk pesantren. Santri yang enggan gundul maka tidak ada toleransi, dia harus keluar dari pesantren.

Dulu ada santri yang kurang disiplin. Dia terlambat sholat karena sibuk dengan nyisir rambut. Ketika pihak pengasuh mengetahui itu, maka beliau mewajibkan gundul bagi setiap santri. Pelanggaran itu akan menambah peraturan baru.

Kalau diperhatikan memang banyak manfaat gundul untuk santri. Waktu mereka tidak banyak terkuras hanya untuk dandan, Insyaallah mereka terhindar dari kutu rambut, mengurangi biaya perawatan, dan peyelaraskan kerapian.

Tatkala santri memanjangkan rambut, maka kemungkinan akan ada anak yang tidak merawat dan merapikan rambut, sehingga kerapian santri secara umum berkurang. Peraturan gundul ini juga jadi pesan bahwa penampilan bukan segala-galanya dalam hidup ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *