Doa Masuk Rumah menurut Islam

Doa Masuk Rumah
Doa Masuk Rumah (pixabay.com)

Sebelum masuk ke dalam pembahasan doa masuk rumah, sangat penting untuk kita renungkan dulu betapa penting nya rumah bagi kita.

“Rumah adalah surgaku”, slogan yang sering diutaran banyak orang yang sangat peduli dengan rumah dan keluarganya, yang selalu mengidamkan kebahagiaan keluarga di saat banyak orang mencari kebahagian di luar rumah dengan meninggalkan keluarga.

Dari sudut pandang aturan Islam Hal itu tidak mungkin terjadi jikalau, nilai-nilai Islam tidak dihidupkan di rumah keluarga. Rumah serasa bak kuburan yang dipenuhi denga memedi gentayangan. Supaya hal itu tidak terjadi maka perlu amalan dan “mantra” sebagai wasilah pengusir memedi yang tak tampak mata.

Ada beberapa doa harian, yang perlu untuk dipelajari dan diamalkan dan perilaku yang perlu dijalankan, diitiqomahi, seperti doa pagi hari, doa malam hari, doa masuk masjid, doa keluar masjid, doa masuk kamar mandi, doa sebelum makan, doa sesudah wudhu, dan doa kifaratul majelis, dan dibina untuk keluarga sebagai usaha menjaga rumah dari musibah, azab, madhorot atau gangguan syetan yang berwujud jin ataupun manusia.

Doa Masuk Rumah

Salah satu cara mencegah syetan dari bangsa jin, menginap di rumah, atau makan malam bersama penghuni rumah, dengan zikir atau doa masuk rumah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits berikut ini:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Jika seseorang memasuki rumahnya maka ia menyebut nama Allah ketika ia masuk, dan saat ia makan, Syetan pun berkata (kepada teman syetan lainnya), “Tidak ada tempat menginap untuk kalian dan tidak ada pula makan malam.” Dan ketika ia memasuki rumahnya dengan tanpa menyebut nama Allah saat ia masuk, syetan pun mengatakan (kepada teman sebangsanya), “Kalian mendapatkan tempat menginap.” Ketika ia tidak menyebut nama Allah saat makan, maka setan pun berkata, “Kalian mendapat penginapan dan makan malam.” (HR. Muslim)

1. Doa Masuk Rumah dengan Salam

Ucapan salam merupakan doa keselamatan kepada yang disalami. Ucapan ini sangat dianjurkan untuk dilantunkan ketika memasuki rumah, bertemu kawan dan menjawab salam.

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

Maka apabila kalian memasuki rumah- rumah, maka hendaklah kalian memberi salam kepada kepada diri-diri kalian, sebagai penghormatan dari sisi Allah, yang dibarokahi, yang baik. (QS. An Nur: 61)

يَا بُنَىَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُونُ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ

Wahai anakku, jika engkau masuk (rumah untuk menemui) keluargamu, maka ucapkanlah salam yang akan jadi barokah bagimu dan keluargamu. (HR. Tirmidzi)

2. Doa Masuk Rumah yang Dhaif riwayatnya

Hadits berikut ini dhaif riwayatnya, masalah pengamalan dikembalikan kepada pendapat masing-masing. Tapi yang jelas salam merupakan doa masuk rumah yang sudah disepakati ulama. Berikut lafal doanya:

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلِجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pada-Mu kebaikan tempat masuk dan tempat keluar. Dengan nama Allah, kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar dan hanya kepada Allah Rabb kami, kami bertawakkal.

Di dalam riwayat tersebut juga ada perintah untuk salam setelah melantunkan doa tersebut.

Menjalakan Kewajiban Agama

Amalan wajib dalam agama merupakan terpenting yang harus selalu dijaga, bagi seorang muslim, sebagai bentuk menjaga dirinya dari azab Allah subhanahu wa ta’ala, yang juga bisa berimbas pada keluarganya. Mau jadi apa dia, anaknya, istrinya dan isi rumahnya kalau dia tidak shalat, menunaikan shalat, puasa atau amalan wajib lainnya.

Meninggalkan Larangan Agama

Seorang muslim tidak hanya dituntut menjalankan kewajiban saja tapi juga dituntut untuk meninggalkan larangan. Sifat meninggalkan larangan itu tidak terikat dengan kemampuan yang bersangkutan, karena semua orang mampu untuk meningalkan larangan. Cukup dengan diam, dia sudah jauh dari larangan.

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ

Apa yang Rasul berikan (perintahkan)  kepada kalian maka ambilah (menerima dan melaksanakan). Dan apa yang beliau larang bagi kalian maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Seungguhnya, Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al-Hasyr: 7)

Strategi ampuh supaya mudah meninggalkan larangan dalam Islam yaitu dengan tidak mendekat-dekatinya. Kebanyakan peluang maksiat, keinginan maksiat itu muncul karena ada pendekatan atau membiarkan disekitarnya hal-hal yang mengarahkan ke  maksiat, sebut saja zina misalnya.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Dan kalian janganlah mendekati zina. Sesungguhnya itu adalah kekejian, dan buruk jalan.  (Al-isra’: 32)

Al-Quran melarang zina dengan menggunakan redaksi berupa larangan mendekat bukan dengan larangan secara langsung.

Mendidik dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Keluarga merupakan bagian dari rezeki terbesar bagi manusia yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka sebagai seorang muslim harus menjaga nyawanya, kehormatannya, agamanya dan hartanya dan memuliakanya pendidikan berbasis syariah.

Amar ma’ruf untuk skala kecil ini harus diterapkan dalam rangka penjagaan. Dan harus disingkronkan dengan pendidikan sebagai basik hidup mereka.

Ketika dari mereka ada yang melakukan hal yang membahayakan harta, nyawanya, kehormatannya, atau yang mendatangkan dosa dan azab, maka tidak ada cara tegas untuk mencegahnya kecuali dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Terlebih lagi jika perilaku itu juga membahayakan anggota lain keluarga.

Peniadaan amalan mulia ini bisa mengancap ketentraman rumah, dengan azab yang datang. Azab muncul dengan tidak membedakan mana yang pelaku maksiat mana tidak, jika orang baik diam seribu bahasa dari usaha perubahan.

Umat ini unggul dengan karakter spesial yang dimilikinya yaitu amar ma’ruf nahi mungkar. Bila ini bisa diterapkan dalam skala lebih luas, maka barokah langit bumi akan datang tak diundang.

Wasiat atau Pesan Mulia

Perlu ada pesan-pesan baik selagi nyawa masih menyatu dengan raga, atau ketika akan bepergian, sebagai sarana menanam benih kebaikan atau menjaga keberlasungannya.

Membaca Al-Quran

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan, Sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang dibacakan didalamnya surat Al Baqarah. (HR. Muslim)

Zikir dan Shalat Sunnah

Shalat sunnah lebih utama dilakukan di rumah masing-masing, hal itu lebih menjaga hati dari sifat riya’ yang merusak amalan, seperti shalat malam, dhuha, dan sesudah/sebelum shalat fardu. Tapi ada juga shalat sunnah yang tak bisa dilaksanakan kecuali di masjid atau jama’ah, seperti shalat ied, khusuf, dan tahiyyatul masjid.

Insya Allah Ta’ala, rumah yang sering digunakan zikir dan shalat sunnah akan lebih mendapat barakah.

صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ

Shalatlah wahai umat manusia, di rumah kalian. Maka Sesungguhnya sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat fardhu. (HR. Bukhari dan Muslim)

مَثَلُ البَيْتِ الَذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالبَيْتِ الذِي لَايُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ كَمَثَلِ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya, dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti perumpamaan orang hidup dan orang mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

Mencontohkan Amalan Sunnah dan Kebaikan

Mencontohkan sunnah atau kebaikan kepada keluarga, mendatangkan pahala (karena amalannya), jadi bahan didikan bagi anak istri, dapat pahala jariyah (dari yang mencontohnya), memakmurkan rumah dengan kebaikan, dan menjaga keberlangsungan praktek (kebaikan tersebut di rumah).

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, maka manusia mengamalkannya, niscaya baginyaakan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, yang tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR. Ibnu Majah)

Terima kasih telah membaca artikel ini

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *