Adab dan Doa Keluar-Masuk Kamar Mandi

doa-masuk-kamar-mandi
Gambar Viscious-Speed via pixabay.com

Adab dan doa masuk kamar mandi – Islam agama yang mengatur segala aspek. Karena saking sempurnanya, agama para nabi ini mengatur juga hal-hal kecil, bahkan sampai urusan masuk kamar mandi saja, ada aturannya.

Sebagian orang beranggapan doa itu untuk hal-hal besar, tapi dalam islam doa masuk kamar mandi bagian dari syariatnya.

Kalau dalam urusan kamar mandi saja, ada aturannya dalam Islam, apalagi urusan yang jauh lebih besar dari itu, seperti bernegara. Maka orang yang beranggapan Islam tidak mengatur politik atau negara, silahkan ia ngaji dulu.
Maka tatkala kita tahu bahwa Islam agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, kita tidak perlu lagi mengambil aturan-aturan buatan manusia yang bertentangan dengan Islam.

Aturan manusia penuh dengan celah dan kekurangan sedangkan aturan Allah subhanahu wa taala penuh dengan hikmah, manfaat dan barakah. Keyakinan sepeti itu harus ditanamkan dalam hati sebagai bentuk iman kepada Allah subhanahu wa taala.

Masuk Kamar Mandi dengan Mendahulukan Kaki Kanan

Ulama dari empat mazhab fiqih (hanafiyyah, malikiyyah, syafiiyyah, dan hambali) mereka sepakat bahwa qaidah-qaidah Islam sudah menetapkan bahwa amalan-amalan yang melibatkan bagian kanan dan bagian kiri, maka didahulukan bagian kanan tatkala amalan tersebut masuk kategori amalan mulia, seperti wudhu dan mandi junub dan masuk masjid.

Adapun amalan yang masuk kategori sebaliknya, maka didahulukan bagian kiri, seperti keluar masjid. Keluar masjid

Membaca Basmalah dan Doa Masuk Kamar Mandi

doa-masuk-kamar-mandi
Gambar syafrani_jambe via Pixabay.com

Selain doa masuk kamar mandi, membaca basmalah juga masuk kriteria sunnah yang diajarkan Nabi sallallahu alaihi wa sallam

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat bani Adam (manusia) adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki kamar mandi, dia mengucapkan “bismillah”. (HR. At-Tirmizi, dishohihkan Syaikh Al-Albani, di kitab Shohihut Tirmizi)

Berikut hadits tentang doa masuk kamar mandi:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ، قَالَ: اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Dari Anas radiyallahu anhu bahwasanya Nabi sallallahu alaihi wa sallam apabila masuk tempat kosong (tempat buang hajat) berdoa “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari para jin laki-laki dan perempuan.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafal tersebut milik Bukhari)

Membaca basmalah dan doa masuk kamar mandi merupakan sunnah dari sekian banyak sunnah yang ditinggalkan, entah mungkin karena lupa atau memang sudah kebelet sehingga tidak peduli dengan sunnah ini.

Tidak Mengucapkan Nama-Nama Allah di Dalam Kamar Mandi

Salam
doa masuk kamar mandi (idaroh.com)

Memang sebelumnya ada anjuran membaca bismillah dan doa masuk kamar mandi, tapi hal tersebut tidak di ucapkan di dalam kamar mandi, tapi di diluarnya, sebelum masuk.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَجُلًا مَرَّ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُوْلُ، فَسَلَّمَ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seorang lewat, dan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam sedang buang air. Maka dia (orang lewat tersebut) mengucapkan salam, maka beliau (Rasulullah) tidak menjawabnya. (HR. Muslim)

عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ: أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُوْلُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ ” إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ عَلَى طَهَارَةٍ

Dari Al-Muhajir bin Qunfudz bahwa ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang buang air kecil, maka ia mengucapkan salam kepada beliau, maka beliau belum menjawabnya salam sampai berwudhu, kemudian beliau mengemukakan alasannya kepadanya, maka beliau bersabda “sesungguhnya aku membenci untuk menyebut nama Allah taala kecuali dalam keadaan suci”. (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Empat mazhab (hanafi, hambali, syafii, dan maliki) sepakat bahwa hukum mengucapkan nama Allah di dalam kamar mandi, hukunya makruh. Hal ini berlaku bagi ucapan apa saja yang mengandung penyebutan nama Allah.

Tidak Memasukkan Benda yang Bertuliskan Nama-Nama Allah Taala

doa-masuk-kamar-mandi
idaroh.com

Hadits-hadits di bab sebelumnya tersebut, juga menunjukkan pelarangan memasukkan nama Allah taala di kamar mandi.

Begitu juga ada hadits yang jelas menerangkan hal tersebut:

 

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ) أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ

Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu ia berkata “apabila Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam masuk tempat kosong (tempat buang hajat), meletakkan cincinnya” (HR. Imam yang Empat)

Banyak ulama mendhoifkan hadits tersebut. Meskipun begitu, bukan berarti layak mengucapkan nama-Nya di kamar mandi. Kalau saja hadits ini tidak bisa diamalkan, maka masih ada hadits lain yang telah lewat, yang menunjukkan ketidak pantasan hal tersebut.

Tidak Berbicara Kecuali Mendesak

doa-masuk-kamar-mandi
Gambar pencilparker via pixabay.com

Syaikh Ibnu Baz menilai boleh berbicara di kamar mandi apabila ada keperluan, jika tidak maka lebih pantas untuk ditinggalkan. Sebagian ulama bahkan ada yang berbicara ketika buang hajat kecuali ada keperluan mendesak.

Tidak Menghadap Kiblat atau Membelakanginya

ka'bah
Doa Masuk Kamar Mandi (pixabay.com)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا ، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى

“Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Maka kami datang ke Syam. Kami mendapati jamban-jamban dibangun menghadap ke arah kiblat, maka kami pun mengubah arah dan memohon ampun pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhori dan Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِى، فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِى حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ

Dari Abdullah bin Umar berkata : Aku menaik permukaan rumah Hafshah karena suatu keperluanku. Maka aku melihat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam buang hajat membelakangi kiblat menghadap Syam. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kalau diperhatikan sekilas dua hadits tersebut terkesan bertolak belakang. Maka kita perlu membaca keterangan ulama supaya tidak punya kesan seperti itu karena ketidaktahuan kita.

Ada banyak pendapat ulama dalam hal tersebut; ada yang membolehkan mutlak, ada yang membolehkannya tapi di bangunan, ada yang melarang total dan beberapa pendapat lainnya.

Ringkasnya untuk lebih berhati-hati maka jangan dilakukan entah di dalam bangunan atau di luar. Wallahu ‘alam.

Tidak beristinja’ atau Menyentuh Kemaluan kecuali dengan Tangan Kiri

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِى الإِنَاءِ ، وَإِذَا أَتَى الْخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ

“Jika minum, salah seorang dari kalian , janganlah ia bernafas di wadah. Dan jika ia buang hajat, maka jangan menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya. Dan jangan ia membersihkan (beristinja’) dengan tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini juga menunjukkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan najis atau kotoran maka penanganannya dengan anggota kiri sedang hal-hal yang lebih tinggi martabatnya, maka dengan tangan kanan.

Jangan sampai tangan kanan yang digunakan untuk makan ini, digunakan juga untuk istinja’ atau sebaliknya, tangan kiri yang digunakan untuk istinja’, digunakan juga untuk makan.

Keluar dengan Kaki Kiri

Dijelaskan di sub bab sebelumnya masuk kamar mandi dengan mendahulukan kaki kanan. Sebaliknya, keluar kamar mandi dengan kaki kiri, sebab hal tersebut menjauh dari najis dan kotoran. Hal itu masuk kategori perbuatan yang punya nilai kemuliaan.

Doa Keluar Kamar Mandi

Tidak hanya doa masuk kamar mandi yang diajarkan dalam agama ini, tapi untuk keluar juga ada doanya.
Pengucapan doa ini juga di luar, sebagaimana yang berlaku pada doa masuk kamar mandi.

Berikut hadits yang menjelaskan doa keluar kamar mandi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الخَلَاءِ قَالَ: غُفْرَانَكَ

Dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau keluar dari tempat kosong (tempat buang hajat), berdoa:

غُفْرَانَكَ

(HR. Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad, lafal milik At-Tirmizi, dan hadits ini dishohihkan oleh Imam Nawawie dan Syaikh Al-Albani)

Terima kasih telah mengunjungi tulisan ini Adab dan Doa Keluar-Masuk Kamar Mandi

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *