Doa Kafaratul Majelis Beserta Adab-Adabnya (Upaya Mencari Pahala dan Menghapus Dosa)

doa kafaratul majelis

Sudah menjadi tabiat manusia, besosial dengan yang lain. Termasuk bagian dari bersosial, yaitu berkumpul dalam satu majelis, membentuk satu acara untuk saling berbagi. Hal seperti ini sangat dianjurkan dalam syariat Islam selagi masih dalam koridornya, yaitu dengan diiringi adab, akhlaq, dan doa kafaratul majelis.

Koridor-koridor ini dibentuk supaya sikap, prilaku atau pembicaraan dalam majelis tersebut tidak keluar dari areanya, sehingga majelis itu hanya mendatangkan murka Allah Subhanahu wa ta’ala, yang seharusnya mendatangkan ridho, rahmat dan barokah-Nya.

Islam sejak beberapa abad yang lalu sudah membawakan sikap apa yang harus ambil oleh seorang muslim dalam satu majelis, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Berikut ini amalan atau adab yang harus dilakukan seorang muslim ketika membentuk majelis:

Salam kepada Saudara Seiman

Salam merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk mempererat ukhuwwah, silaturrahmi dan permohonan keselamatan kepada Dzat Yang Memberi Keselamatan, Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ketika anda keluar rumah berpapasan dengan teman seiman, maka lebih utama bagi anda untuk menyalami terlebih dahulu. Ketika dia yang terlebih dahulu mengucapkan salam, maka menjawab salamnya adalah sebuah kewajiban.

Banyak sekali ayat di dalam Al-Quran atau hadits nabawi yang menjelaskan hasungan salam. Berikut ini pemaparannya:

1. Salam, Ciri Khas Golongan sholeh

دَعْوٰىهُمْ فِيْهَا سُبْحٰنَكَ اللهم وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلٰمٌۚ وَاٰخِرُ دَعْوٰىهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Doa mereka di dalamnya yaitu , “Subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau, ya Allah), dan penghormatan mereka yaitu, “Salam”. Dan akhir (penutup) doa mereka ialah, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam).

2. Salam Membawa ke Surga

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) sampai kalian saling mencintai. Apakah mau aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR. Muslim)

Wajib Menjawab Salam dengan Kalimat Semisal atau yang Lebih Baik

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا

Dan apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan (ungkapan penghormatan/salam), maka hormatilah (balaslah) dengan (ungkapan) yang lebih baik, atau balaslah (dengan ungkapan penghormatan yang setara). Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Menghitung. (QS. An-Nisa’: 86)

Tidak Menggunjing

Kebanyakan manusia sangat gemar menggunjing. Ketika kumpul-kumpul, mereka lebih suka membicarakan aib temannya dari pada harus berbincang-bincang mengenai hal yang lebih membawa manfaat atau kebaikan dari manusia. Padahal perilaku ini sangat dicela dalam Islam, bahkan disifatinya sebagai makan daging saudara yang telah mati.

Lebih buruk lagi tatkala itu dilakukan di forum majelis resmi atau majelis yang sebelumnya memang dibentuk untuk tujuan positif.

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Dan janganlah menggunjing sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka seorang dari kalian, memakan daging saudaranya yang dalam keadaan mati? Maka  kalian membencinya (makan bangkai tersebut). Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pemberi taubat, Yang Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

Setelah panjang lebar berbicara tentang keburukan ghibah, maka apa itu ghibah?

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, telah menerangkan apa itu ghibah? Berikut ini definisinya menurut Beliau Sallallahu ‘alaihi wa sallam: 

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Penyebutanmu kepada temanmu dengan (menyebut) apa yang ia benci. (HR. Muslim)

Ketika anda menyebut saudara anda dengan diiringi penyebutan hal-hal tentang dirinya yang ia tidak sukai maka itulah yang disebut ghibah. Meskipun hal tersebut memang ada pada dirinya dan bukan kebohongan.

Tidak Menempati Tempat Duduk Orang Lain

Tidak boleh menyuruh orang pindah tempat untuk ditempati tempatnya. Sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam di hadits berikut ini:

لَايُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِوَلكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا

Tidak (boleh) seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya, lalu ia duduk di tempat tersebut. Tetapi kalian saling melonggarkanlah dan memperluaslah. (HR. Bukhari dan Muslim)Menyebut

Mengingat Nama Allah Ta’ala dan Shalawat atas Nabi

Insya Allah Ta’ala, satu majelis yang disebut di situ Nama Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengarah ke hal-hal baik.

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Tidak suatu kaum yang duduk dalam satu majelis, tidak mengingat Allah serta tidak bershalawat kepada nabi mereka, kecuali itu akan menjadi penyesalanatas mereka, Jika Dia berkehendak, Dia mengazab mereka, dan jika Dia berkehendak, Dia akan mengampuni mereka.” (HR. Ahmad, Turmudzi)

Tidak Ngobrol setelah Isya’

Sangat utama tidak mengadakan majelis setelah isya’ jika hanya untuk ngobrol dan ngoyoworo. Lebih waktu itu untuk segera tidur agar mudah bangun malam untuk shalat tahajut. Jikalau majelis untuk membahas hal penting dan baik maka itu sangat baik.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَا

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum  Isya’ dan bercerita/ngobrol sesudahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Berbantah-Bantahan

Berabantah-bantahan hanya akan mengeraskan hati, membakar emosi, membuat permusuhan, dan hanya mengedepankan nafsu dan ego. Perbuatan seperti ini diusahakan untuk ditinggalkan. Secara umum kebanyakan orang ingin menang dalam berbicara tak lebih cuma untuk melampiaskan ego dan emosi.

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

Wahai anakku, tinggalkanlah pertengkaran (adu mulut) maka sesungguhnya itu, manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara. (HR. Al-Baihaqi)

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ

Orang-orang yang paling dibenci oleh Allah, yang paling keras yang, yang suka bertengkar. (HR. Bukhari Muslim)

Meninggalkan perdebatan memang berat, karena dia melawan emosi terbakar yang ingin selalu melayani perdebatan, tapi hal itu punya keutamaan tersendiri.

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.
(Shahih at-Targib wat Tarhib)

Meninggaalkan Hal yang Sia-Sia

Meninggalkan kesia-sian merupakan perkara yang cukup sulit, karena manusia kalau tidak diuji dengan maksiat dia akan diuji dengan kesia-sian. orang yang mampu meningglkan perkara ini bisa dipastikan, seorang yang mempunyai iman dan Islam yang sangat luar biasa, anugerah dari Allah Ta’ala. Tentu dia sangat jauh dari kemungkaran.

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ O الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ O قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ

Sungguh beruntung orang-orang beriman. Orang yang mereka dalam shalatnya khusyu’. Dan orang-orang yang mereka dari lahwun (perkara sia-saia), berpaling. (QS. Al-mu’minun: 1-3) 

Doa Kafaratul Majelis

Sangat utama menutup satu acara atau perkumpulan dengan doa kafaratul majelis. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah mengajarkan doa kafaratul majelis yang lafalnya berikut ini:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Engkau, aku meminta ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu. (HR. At-Tirmizi) 

Doa kafaratul Majelis ini bila lakukan sesuai saran Beliau, akan membawa ampunan dosa yang terjadi di majelis tersebut.

Semoga artikel yang membahas doa kafaratul majelis, beserta adab-adabnya ini, menjadi investasi akhirat penulis, amiin.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *